Rabu, 21 November 2018

Kita yang Sebatas Pernah.


Ada yang berubah. Ada yang tak lagi sama. Tiba-tiba semua terasa berbeda. Tiba-tiba semua terasa asing. Kamu, tidak lagi menjadi sosok yang kukenali. Tatap mata yang dulu terasa hangat kini menghilang entah kemana. Kamu hadir seolah membawa sejuta harap. Kini, kepergianmu hanyalah mematikan harap. Sejak mengenalmu, aku semakin yakin bahwa cinta adalah permainan yang menyakitkan.

Sejak awal, kamu dan aku memang tak mungkin menjadi kita. Ketika harapan terlalu jauh dari kenyataan. Ketika takdir tak berpihak pada keinginan. Kamu yang terlalu cepat berlari untuk mengakhiri dan aku yang masih berdiri di sini berusaha kembali menata hati. Terkadang, tidak ada gunanya menahan seseorang yang sudah memutuskan untuk pergi. Kali ini aku kalah. Aku benar-benar menyerah.

Dulu, aku tidak pernah berpikir akan menjatuhkan hati padamu. Seseorang yang keras sekaligus berhati lembut. Seorang yang tertutup yang sedikit demi sedikit mulai membuka diri; menceritakan tentang mimpi, cita, keinginan serta harapanmu.  Seseorang yang mampu membuatku tersenyum tiap kali kamu berada di sampingku. Seseorang yang selalu terlihat damai ketika memetik gitar. Seseorang yang masih kusemogakan meski dalam ketidakmungkinan. Apapun tentang kamu, berhasil mengunci seluruh perhatianku. Segala tentang kamu, masih menjadi alasan dibalik senyum, bahagia, dan kecewaku.

Kita pernah begitu dekat, sebelum akhirnya kenyataan membuat kita bersekat. Kita pernah berbagi mimpi, sebelum akhirnya kamu memutuskan untuk pergi. Tanpa kata perpisahan, tanpa ucapan selamat tinggal. Kamu memilih mengakhiri kisah sendiri tanpa mempedulikan akan ada hati yang tersakiti. Kamu mulai melangkahkan kaki disaat aku terlanjur melabuhkan hati. Dan kamu, menutup rapat cerita yang pernah kita mulai berdua. 

Everything happens for a reason. Termasuk sebuah pertemuan. Begitupun pertemuan denganmu. Kamu mengajariku satu hal, ketika kita berharap sangat dalam artinya kita harus siap kecewa sangat dalam pula. Ketika kita mencintai seseorang artinya kita mempertaruhkan hati untuk siap terluka. Karena dalam cinta, tidak ada jaminan untuk tidak tersakiti atau menyakiti, terluka ataupun melukai. Tidak ada yang salah memang, karena kita tidak bisa menentukan kapan dan pada siapa hati kita akan tertuju.

Kini, kita yang pernah dalam harapan yang sama hanya menyisakan kita yang hanya sebatas pernah. Pernah mencintai namun terlukai. Pernah melambungkan harapan yang kemudian terpatahkan. Pernah berusaha menyatukan ingin namun terhalang oleh takdir. Dan pernah menetap sebelum akhirnya saling melepas.

Selasa, 13 November 2018

Papa

Papa. Satu kata beribu makna. Satu sosok dengan kasih sayang yang tak bisa aku ungkapkan dengan kata. Seseorang yang banyak mengajariku tentang arti kehidupan. Jika aku di tanya siapa sosok laki-laki  yang paling aku sayang, dengan lantang aku akan menjawab; Papa, Malaikat Pelindungku.

Papa bukanlah tipe ayah yang romantis. Dibalik kecuekannya, ia peduli. Sosok yang selalu aku cari dalam bagaimanapun keadaanku, sekaligus sosok yang selalu siap menangkapku di saat aku sudah tidak mampu berdiri. Sosok yang rela melakukan dan mengorbankan apapun agar aku bisa berdiri di titik ini. Sosok yang selalu percaya pada setiap mimpi, cita dan harapanku. Sosok yang membuatku berjanji pada diri sendiri untuk tidak sekali pun mengecewakannya.

Hidup tidak selalu berjalan mudah. Jatuh bangun harus kulalui. Tangis, kecewa, kegagalan harus kuhadapi. Namun, dalam sekacau apapun keadaanku, papa selalu ada di sampingku, meyakinkanku untuk tidak menyerah, menguatkanku untuk tidak melemah. Papa; orang yang selalu membuatku mengambil pilihan maju, ketika keadaan memaksa ku untuk mundur.

Hari berlalu. Berkat perjuangan dan pengorbananmu, putri kecilmu kini sudah dewasa. Memasuki hidup yang sesungguhnya, menjalani kehidupan yang sebenarnya. Kesabaranmu menuntunku untuk tidak menyerah, percayamu membuatku mampu membuktikan bahwa aku bisa. Dalam jauh ataupun dekat, doamu tak pernah lepas menjagaku. Dalam setiap langkah kakiku, doamu selalu bersamaku.

Terbayang memori sewaktu kecil. Saat engkau mengantarku ke sekolah dengan menggunakan sepeda. Saat itu, aku bisa menghabiskan waktu lebih lama denganmu. Ketika kesibukanku belum menjadi alasan dari sulitnya bertemu. Terbayang saat setiap malam kita selalu berdiskusi tentang banyak hal; hukum dan politik adalah topik favoritmu. Namun kini, untuk sekedar bertukar cerita saja terasa sulit. Aku rindu saat masih bisa menghabiskan banyak waktu denganmu.

Papa, putri kecilmu kini sudah dewasa. Namun, itu tidak berarti membuatku kehilanganmu, karena bagaimanapun keadaanku, kau selalu ada di belakangku. Mendampingi, menemani, dan melindungi. Papa, betapa bersyukurnya aku menjadi putrimu. Meski melewati masa kecil yang berat, namun kini berhasil menjadikanku pribadi yang kuat. Papa, terima kasih untuk cinta yang tak pernah habis. Untuk pengorbanan yang mungkin takkan bisa kubalas dengan apapun.

Doaku hanya satu, semoga dalam perjalanan hidupku, tidak sekalipun aku membuatmu kecewa.

Kamis, 08 November 2018

Tidak Perlu Menjauh. Aku Sudah Tahu Bagaimana Cara Berjalan Mundur.


Kata orang, tulisan bisa lebih jujur dalam bercerita, ketika kata tidak mampu terucap. Kata orang, tulisan mampu mewakili hati ketika kata yang terucap seakan tidak ada gunanya.  Maka kali ini kupilih mengabadikanmu dalam tulisan. Lewat susunan kata yang membentuk cerita bukan perkataan yang berakhir sia-sia.

Aku percaya konsep waktu. Bahwa dalam hidup waktu selalu menghadirkan orang-orang dengan tujuannya masing-masing, dengan pelajarannya masing-masing, dan memiliki peran masing-masing. Dan setiap orang yang hadir dalam hidup pun memiliki batas waktunya masing-masing.

Begitupun perihal kamu. Mengenalmu membuatku belajar tentang banyak hal. Tentang mimpi, harapan, dan kehidupan.  Kamu, yang kupilih sebagai teman berceritaku. Kamu yang selalu berkata salah jka aku memang salah. Kamu yang selalu menghibur dengan segudang tingkah ajaibmu. Dan kamu yang selalu kuharapkan ada dalam sekacau apapun hari yang kulalui.  Dulu, memang terasa begitu. Ketika dekat denganmu saja sudah cukup membawa kebahagiaan. Dulu, semua memang begitu. Ketika tawa tak pernah lepas menghiasi wajahku. Kala itu, kamu menjadi alasan di balik setiap senyumku. Kala itu, kamu yang menjadi alasan dibalik bertahanku. Kala itu, harapku sederhana; semoga waktu bisa berputar sedikit lebih lama saat aku bersamamu. Saat semua belum berubah.

Namun, waktu berputar terlalu cepat tanpa pernah berkompromi.  Hari itu kamu berubah. Hari itu kamu berbeda dan hari itu kamu menjauh. Hari itu kamu menganggapku tak kasat mata. Dan hari itu pula aku tak henti-hentinya menyalahkan diri sendiri atas kesalahan yang kulakukan. Atas luka yang tanpa sengaja telah kutorehkan. Atas luka yang membuatmu kecewa.
Mungkin darimu, waktu ingin mengajariku tentang kehidupan. Mengakui setiap kesalahan, menerima setiap kekalahan. Mungkin darimu, waktu membuatku sadar, bahwa kehilangan seseorang yang berarti, harus siap pula untuk kehilangan setengah hati.

Kini, kita kembali menjadi dua orang asing yang seolah tidak saling mengenal. Tidak saling menyapa.  Berusaha melupakan bahwa hari lalu pernah ada, berusaha menganggap bahwa cerita lalu tidak pernah ada. Tahukah kamu, melihatmu menjauh adalah siksa bagiku? Tahukah kamu, bagaimana rasanya mendengar ketika kamu berkata bahwa kita tidak lagi bisa dekat? Bahwa secara tidak langsung kamu mengisyaratkan untuk kita lebih baik saling menjauh. Mungkin ini mudah bagimu, namun terasa menyiksa untukku. Jika aku bisa memutar waktu kembali, aku berharap agar hari itu tidak pernah terjadi. Hari dimana aku mengenalmu yang pada akhirnya pun memilih untuk berlalu.

Kamu tidak perlu menjauh. Karena kini, aku sudah tahu bagaimana caranya berjalan mundur.

Sabtu, 20 Oktober 2018

Teruntuk Kamu

Pertemuan kita yang secara tidak disengaja kembali berputar dalam ingatan. Kamu dengan sikap dinginmu, kamu dengan kecuekanmu berhasil mengunci perhatianku sejak hari pertama kita bertemu. Aku yang tidak berani mendekat, pun tidak berani menyapa karena sikap tak bersahabat yang selalu kamu tunjukan. Rasanya lucu, jika kamu yang tidak pernah bersikap ramah padaku, mampu menyita seluruh pikiranku. Sejak saat itu, aku selalu melambungkan harap agar bisa setidaknya mengenalmu lebih dekat... 

Hari itu, waktu sedang berbaik hati padaku, memberiku kesempatan untuk bisa mengenalmu lebih dekat. Mendapat waktu untuk bisa mengobrol dan bercerita denganmu. Mendapat kesempatan untuk menjadi pendengar dari cerita-ceritamu, tentang mimpi, cita, dan harapan yang diam-diam aku meng-aamiin-kannya dalam bentuk doa untukmu. Sejak hari itupun, kupercayakan segala cerita-ceritaku padamu. Bisa berbagi cerita padamu saja rasanya sudah cukup bagiku, tak perlu ku berharap lebih. 

Kadang, aku tidak mengerti dengan konsep hati dalam menyukai seseorang. Kamu yang tidak memiliki satupun yang menjadi tipe kriteriaku tapi berhasil membuatku menjatuhkan hati. Benar kata orang, ‘kriteria tidak akan berarti ketika kita jatuh cinta tanpa alasan.’ Aku menyukaimu dengan segala sikap menyebalkanmu. Bahkan, disaat kamu marah padaku tanpa kutahu apa penyebabnya. Atau ketika kamu terlihat dekat dengan teman wanitamu, saat itu kamu terlihat sangat menyebalkan di mataku.  

Namun, aku tetap menyukaimu. Menyukai caramu menatap, caramu tersenyum, caramu berbicara atau bercerita, caramu antusias terhadap suatu hal, hingga caramu berpikir. Memperhatikanmu dalam diam, melihat semua yang kamu lakukan setiap hari. Bohong, jika kubilang aku tidak tersenyum membayangkannya, karena faktanya cerita bersamamu adalah yang selalu ku putar ulang sebagai penutup hari lelahku. Menyukaimu dalam diam saja, sudah cukup bagiku, tak perlu ku berharap lebih. 

Jurang perbedaan jelas terbentang diantara kita yang takkan mungkin bisa kita lewati. Perbedaan yang membuatku berusaha keras mematikan segala rasa yang aku punya untukmu. Bagaimanapun inginku, bagaimanapun harapku, tetap bukan aku yang menjadi jalan yang kamu tuju.  

Teruntuk kamu, dari sini aku selalu mendoakan yang terbaik untuk segala mimpi, cita, dan harapanmu. Meng-aamiin-kan dalam doa untuk apapun yang menjadi rencana dalam langkah-langkahmu. Terima kasih sudah singgah dalam cerita perjalanan hidupku. Mengisi banyak senyum, tawa, dan cinta. Kelak, jika sudah saatnya untuk kita berpisah, aku akan berterima kasih pada waktu yang telah memberi kesempatan padaku untuk mengenalmu. Kamu, terima kasih.  

Sabtu, 25 November 2017

Per-jobseeker-an



Jobseeker. Pasti yang baru saja menyandang gelar Freshgraduate atau yang baru saja menyelesaikan pendidikannya familiar dengan kata itu. Atau mungkin malah melabeli dirinya sebagai salah satunya. Sama halnya seperti aku yang melabeli diriku sebagai jobseeker; para pejuang pencari kerja.
Masih berbekas rasanya euforia pada saat selesai sidang skripsi, yudisium dan wisuda. Senyum berkembang terus-menerus, merasa sebagian beban selama masa skripsi dan sidang terangkat sudah. Membayangkan akan segera memasuki dunia kerja. Ngelamar kerja – test kerja – Interview – psikotest – diterima kerja dibidang yang diminati – gajian – bisa ngasih orang tua – bisa beli ini itu sendiri – nabung – lanjut S-2. Itulah bayangan yang terlintas dipikiran sejak setelah hari kelulusan. Dan aku lupa bahwa realita sering berbanding terbalik dengan apa yang menjadi bayangan. Atau mungkin, dalam pikiran kebanyakan orangpun sama, “S-1 gampang cari kerja.” Lagi-lagi mereka lupa bahwa realita tak seindah jalan cerita di FTV. Karena nyatanya segala macam emosi bermain dalam perjalanan mencari kerja. Ah, kalianpun pasti merasakannya, kita sama!

Dalam perjalanan perjobseekeran ini sebagai freshgraduate, sulit rasanya mencari perusahaan yang menerima freshgraduate tanpa pengalaman. Kendala yang pertama dirasa adalah pengalaman kerja yang dikualifikasikan perusahaan minimal 2 tahun. Meskipun ada yang minimal pengalaman 1 tahun, namun merekapun tetap mencari dan mengutamakan pegawai yang sudah berpengalaman. Selain itu, kadang kala yang menjadi kendala selanjutnya adalah kemampuan bahasa inggris yang sangat pas-pasan. Apalagi saat ini banyak perusahaan yang sudah mengharuskan TOEFL sebagai salah satu kualifikasi persyaratannya dan tentunya harus aktif berbahasa inggris baik lisan maupun tulisan. Akhirnya, dari yang awalnya ingin kerja sesuai jurusan akhirnya berpikir realistis dan “kerja apa aja deh yang penting gue bisa dapet kerja.”

Kesempatan. Ada hal di dunia ini yang ga akan bisa terulang, yaitu waktu dan kesempatan. Namun kadang, meski sudah mengetahui konsep ini kita kadang masih saja terkesan melewatkan kesempatan itu, padahal tau itu nggak akan bisa terulang lagi. Misalnya dapat panggilan interview di perusahaan bagus dan dengan posisi yang sesuai keinginan, namun kita kurang mempersiapkan diri dan akhirnya hasil tak sesuai harapan. Padahal, kalau aja kita bisa lebih memanfaatkan waktu dan kesempatan untuk lebih mempersiapkan diri, sekecil apapun kesempatan itu mungkin hasil yang lebih baik masih bisa menjadi peluang. Kadang juga, dapat pekerjaan namun kita merasa kurang sreg, entah dari jobdesknya, suasananya, atau apalah faktor lainnya yang akhirnya kita tidak mengambil pekerjaan itu. Tidak harus disesali memang karena waktu tidak akan bisa berputar balik ke belakang, cukup dijadikan pelajaran dan memperbaiki kesalahan-kesalahan agar bisa menjadi cambuk untuk lebih baik lagi ke depannya.

Setiap orang mempunyai fase kehidupannya masing-masing. Setiap orang juga akan berlomba dengan waktunya masing-masing. Semua mempunyai jalannya sendiri untuk sampai diwaktu yang memang untuknya. Ada yang waktunya cepat, ada juga yang memang memerlukan waktu dan kesabaran sedikit lebih. Bagi yang sudah mendapatkan kerja, bersyukurlah. Jangan sering update status capek karena mengeluh bekerja. Ingat lagi gimana capekmu sebelum kamu mendapatkan pekerjaan itu. Ingat teman-temanmu yang belum menemukan jalan sebaik kamu, yang masih harus berusaha lebih keras untuk ada di posisi itu. Lebih baik capek bekerja daripada capek mencari pekerjaan, iya kan ?

Dan bagi yang belum mendapatkan pekerjaan, tenang, kamu nggak sendirian. Sabar, setiap orang diciptakan dengan waktunya masing-masing dan rezekinya masing-masing dan itu mutlak ketentuan Allah. Akan tiba juga waktumu nanti, asal kita tetap percaya pada rencana-Nya, tidak putus berdoa, mendekatkan diri pada-Nya, lakukan yang orang biasa tidak lakukan misalnya sholat dhuha, tahajud, dan hajat, dan jangan pernah berhenti mencoba. Sambil menunggu panggilan, sebaiknya diisi dengan mempersiapkan diri untuk test-test selanjutnya jika nanti ada panggilan. Mencoba mengingat kembali kesalahan apa yang terjadi saat test sebelumnya yang mungkin membuat kita gagal pada test tersebut dan belajar untuk memperbaikinya. Pelajari kembali materi-materi perkuliahan yang mungkin sempat lupa untuk persiapan saat interview. Atau untuk mengisi waktu sambil menunggu panggilan, jika punya kendala di bahasa inggris, mungkin bisa memanfaatkan waktu dengan mengikuti kursus conversation atau TOEFL. Kita tidak tau doa keberapa yang akan menembus langit, sama halnya kita tidak akan tau usaha keberapa yang akan berhasil, dua-duanya sama; perbanyaklah. Yakin, bahwa rezeki tidak akan pernah tertukar apalagi salah alamat. Yang memang untukmu tidak akan menjadi milik orang lain. Begitupun dengan yang bukan menjadi milikmu, ibarat sudah masuk mulutpun pasti akan termuntahkan lagi. Kita tidak tau rezeki kita ada dimana, namun rezeki tau kita ada dimana. Capek boleh, nyerah jangan. Sedih boleh, berhenti jangan. Bismillah, Allahumma yassir wala tu’assir.

Senin, 24 Juli 2017

Aku Merindukanmu, dan Ini Menyakitkan Bagiku


Aku merindukanmu. Apakah kau tahu rasanya merindukan seseorang yang tak mungkin lagi untuk digapai ? Seseorang yang tak mungkin lagi untuk ditemui, apalagi untuk dimiliki. Kita sudah berjauhan, tak ada lagi tegur dan sapa. Mungkin ini mudah bagimu, tapi sungguh ini menyiksa bagiku. Aku tahu, menjauhimu adalah keinginanku demi melindungi hati sebelum terluka lebih dalam. Dan aku tahu, mungkin kau menghargai cara ku dengan menjauhimu sehingga kaupun bersikap yang sama. Sekali lagi, ini menyiksa bagiku.

Beberapa bulan yang lalu, aku tidak pernah berpikir harus berhenti sedemikian cepat. Entah aku yang salah, kamu yang salah, atau mungkin memang begini cara waktu memisahkan. Beberapa bulan yang lalu, kamu menjadi alasan dari setiap senyum ku. Namun saat ini, kau menjadi alasan dari tiap tetesan air mataku. Beberapa bulan lalu mata ku selalu bersinar ketika bercerita tentangmu. Namun saat ini, rasa sakit yang menyelimuti ketika bercerita tentangmu. Aku merindukanmu, dan ini menyakitkan bagiku.

Melupakanmu tak pernah semudah seperti yang kubayangkan. Rasanya bodoh, meski sudah terlukai karena perlakuanmu, hati masih tetap saja mengharapkan sosokmu untuk hadir. Sosok yang masih terekam jelas dalam ingatan, sosok yang masih kucari-cari dalam kenangan. Bisakah melupakan seseorang tanpa adanya rasa sakit ?

Kuakui yang kau lakukan padaku sangatlah kejam. Bermain-main dengan perasaan tanpa kau niat untuk membalasnya. Bersikap seolah kaupun memiliki rasa yang sama kemudian menghempaskan harapku tanpa rasa bersalah. Kau pergi tanpa memberi alasan ataupun penjelasan yang masih menimbulkan banyak Tanya dalam pikiran. Namun sejujurnya, aku tahu jawaban dari apa yang aku pertanyakan. Aku hanya terlalu takut mengakui bahwa itu benar. Mengakui bahwa kau benar singgah hanya untuk meninggalkan luka. Mengakui bahwa kau benar singgah hanya untuk mempermainkan.

Apa kau tahu, luka yang kau tinggalkan terlalu membekas. Terlalu sempurna. Dan setelah luka yang kau tinggalkan, aku masih saja merindukanmu ? Hati terkadang memang senang bercanda. Bodoh memang. Kadang, aku tidak paham mengapa mencintai seseorang bisa sedemikian menyakitkan. Kenapa setelah terlukai, hati masih saja mengharapkannya. Kenapa kau harus menjadi orang yang aku cinta sekaligus adalah orang yang paling aku benci ? Aku hanya ingin melupakanmu tanpa luka. Aku hanya ingin mengingatmu tanpa rasa sakit. Dan aku hanya ingin meninggalkanmu tanpa rasa rindu.

Kau tenang saja, takkan kuganggu kehidupanmu kini. Bahagialah di hidupmu sekarang. Lakukan apapun yang membuatmu bahagia. Biar luka yang kau tinggalkan ini aku yang mengurus hingga nanti aku mampu kembali berjalan dan kembali siap membuka hati untuk seseorang. Kau tenang saja, nanti juga tiba waktunya aku menyusulmu untuk bahagia. Ya, kita akan sama-sama bahagia di jalan yang berbeda.

Namun kini ku katakan sekali lagi, aku merindukanmu dan ini menyakitkan bagiku.

Jumat, 21 Juli 2017

Aku Bahagia Mengenalmu, Meskipun Bahagiaku Bukan Kamu



Bertemu dan mengenalmu adalah hal yang entah harus kusyukuri atau justru harus kusesali. Disatu waktu, sosokmu mampu membuatku bahagia. Sosok yang mampu memberi ketenangan dalam sorot matanya dan sosok yang mampu memberi keteduhan dalam setiap senyumnya. Dan disatu waktu lainnya, kau adalah sosok yang paling ku benci. Benci karena perlakuanmu padaku, benci karena sikapmu padaku, dan benci ketika rasa yang aku punya untukmu justru serendah itu kau jadikan mainan. Dulu kau sosok yang berhasil membuatku menjatuhkan hati, tapi kini kau adalah sosok yang paling ingin ku benci.

Dalam hidup, mungkin memang ada cerita yang belum dimulai tapi sudah ditakdirkan untuk selesai. Sekejam itu waktu tanpa memberi kesempatan padaku untuk bersamamu sedikit lebih lama. Atau mungkin waktu yang tidak ingin melihatku merasa sakit lebih lama sehingga menyelesaikan cerita secepat ini. Entahlah. Dan dalam hidup mungkin ada beberapa hal yang memang tidak membutuhkan jawaban.

Terlepas dari hal menyakitkan yang pernah kau lakukan padaku, jika suatu hari kau membaca tulisan ini, ketahuilah aku tidak menyesal mengenalmu. Aku paham, semua orang yang hadir dalam hidupku pasti membawa pelajaran masing-masing, lewat cerita yang membahagiakan atau lewat cerita yang menyakitkan. Dan kau, mengajariku sesuatu lewat hal yang menyakitkan. Mengenalmu banyak membuatku mengerti seperti apa cinta dan sayang yang sebenarnya. Tentang penerimaan yang tulus, tentang cinta yang seharusnya menjaga, tentang cinta yang harus direlakan, dilepas, dan diikhlaskan.

Melepaskan selalu tidak sesederhana mengucapkan selamat tinggal. Bohong, jika aku mengatakan kehilanganmu aku baik-baik saja. Sebab demi apapun, kehilanganmu berhasil mengambil setengah warasku. Namun, aku pun menyadari dalam hidup ada hal yang memang tidak bisa dipaksakan, sekuat apapun inginku bersamamu, tetap tidak akan terwujud jika bukan aku yang menjadi harapmu. Aku tau itu tanpa perlu kau menjelaskannya.

Aku tidak menyesal mengenalmu. Sosok yang selalu berhasil membuatku tersenyum tiap kali melihatmu. Sosok yang optimis dengan mimpi dan impiannya. Sosok bersuara merdu dengan gitar kesayangannya. Semua itu akan terekam jelas dalam ingatan meskipun kini kau jauh dalam penglihatan.

Biarlah segala tentang mu kini hanya akan menjadi kenang. Biarlah jarak yang kini tercipta antara kita membuat kita kembali menjadi dua orang asing yang tidak saling mengenal. Biarlah luka yang hadir diujung cerita menjadi pelajaran bagi kita untuk sama-sama menemukan orang yang tepat. Aku bahagia mengenalmu, meskipun bahagiaku bukan kamu. Pada akhirnya nanti kita akan sama-sama bahagia di jalan yang berbeda. Dari sini aku selalu mendoakan agar yang terbaik selalu datang kepadamu.

Terima kasih sudah hadir dalam perjalanan hidupku. Teruslah berjalan. Kembalilah berlalu.